PAK JOKOWI DAN BAKAR BATU TANIMBAR 2020


TANTANGAN 2020 PAK JOKOWI HARUS RASA BAKAR BATU TANIMBAR 
(HASIL KEBUN TANIMBAR) 
BUDAYA MAKAN BERSAMA DI DESA ARMA KECAMATAN NIRUNMAS
KABUPATEN KEPULAUAN TANIMBAR

Gambaran Umum
Masyarakat Desa Arma adalah salah satu desa dengan luas wilayah ± 1200 km. Letak  Desa Arma berada pada 360° LU dan 180°LS yang berada di Pulau Yamdena, kecamatan Nirunmas, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Rata-rata masyarakat di Desa Arma adalah petani. Petani masyarakat Arma tergabung dalam beberapa kelompok tani berdasarkan arin atau lokasi pertanian.
Berdasarkan data statistik pemeritah Desa Arma tahun 2018 para petani masyarakat Arma mencapai 1011 orang. Menurut masyarakat Arma proses pengelompokan petani sesuai dengan arin masing-masing berdasarkan pada kemauan dan kebersamaan antar masyarakat. Dalam satu airn terdapat 5 sampai 15 KK. Di Desa Arma sendiri ada 10 arin :
-          Arin Feninlambir
-          Arin Mangluair
-          Arin Wekamyetin
-          Arin Bungin Durin
-          Arin Wery
-          Arin Yaurmas
-          Arin Bat Mafut (Leti)
-          Arin Bom
-          Arin Pasir Panjang
-          Arin Wendulin
Setiap arin mempunyai mangke masing-masing. Dalam bahasa lokal masyarkat setempat mangke atau ketua kelompok tani. Proses pemilihan mangke biasanya pasca acara makan-makan bersama. Setelah acara makan bersama selesai semua petani yang berada di arin tersebut berkumpul dan bersepakat untuk mengangkat mangke. Masa periode mangke biasanya dua tahun. Selama dua tahun di lihat jika hasil kebun baik bisa saja mangkenya dipertahankan untuk melanjutkan ke periode berikutnya. Jika tidak mangkenya digantikan oleh yang lain.

Budaya Makan Bersama
Budaya makan bersama adalah salah satu kearifan lokal masyarakat Arma yang telah diwariskan sejak dahulu kalah. Budaya ini dimaksudkan untuk menghargai berkat Tuhan pada para petani masyarakat Arma.  Masyarakat Arma percaya bahwa berkat yang dihasilkan semata-mata hanya dari Tuhan.

Sebelum melakukan panen pada hasil kebun terlebih dahulu dilakukan pembukaan hasil kebun. Proses pembukaan hasil kebun biasanya didoakan di gereja. Kelompok tani pada airn-arin tersebut akan sepakat untuk waktu pembukaan hasil kebun dan membawa nazar ke gereja untuk didoakan sebagai tanda bahwa hasil kebun siap panen dan sebagai respon para petani pada berkat Tuhan atas hasil kebunnya.
Budaya makan bersama dilakukan setahun sekali pada bulan Agustus tahun berjalan. Setiap kali hasil kebun dipanen terlebih dahulu digelar acara makan bersama. Mangke akan bertugas untuk mengkordinir para petani untuk mempersiapkan lokasi, meja makan, konsumsi dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan acara.
Meja makan yang disiapkan dari papan dan dialaskan daun kelapa dengan daun pisang. Kurang lebih meja yang disiapkan panjang 20 meter sementara lebar 1-2 meter dan diatas meja di taruh menu makanan lokal atau hasil makanan tanah misalnya Umbi-umbian (Patatas, Kasbi, Kaladi, Kombili, Ubi dll) ada juga lauk pauk (Ikan, Sayur-sayuran sama daging babi, anjing, kerbau, kusu, musang, burung dll).
Menu yang tidak kalah penting juga ialah BAKAR BATU. Bakar Batu adalah kearifan lokal masyarakat Kepulauan Tanimbar. Para petani masyarakat Arma selalu mengkonsumsi menu Bakar Batu. Jadi proses pembuatan bakar batu sebagai berikut : pertama, kolam di gali sesuai dengan ukuran yang dinginkan minimal lebar 1m dan dalam 30cm. Kedua, setelah kolam di gali, akan disusun batu dan kayu dalam kolam tersebut dan dibuatkan api hingga batu-batu yang berada dalam kolam tadi menjadi merah seperti membakar besi di dalam api. Ketiga, setelah itu hasil kebun (Patatas, Kasbi, Kaladi, Kombili, Ubi dan daging babi, anjing, kerbau, kusu, musang, burung) dan LELA yang bahan dasarnya dari Kasibi dan Kombili di parut, dibungkus dengan daun pisang atau ditaruh dalam tempurung kelapa di masukan ke dalam kolam tersebut, ditutupi daun pisang terlebih dahulu kemudian ditutupi lagi dengan tanah dan potongan-potongan kayu yang terbakar ditaruh diatas tanah tersebut. Selama 1 atau 2 jam kemudian kolam tersebut di buka dan makanannya siap saji.




Setelah semua menu suda disiapkan diatas meja maka acara makan bersama siap di mulai. Dalam budaya makan bersama ada undangan yang hadir juga dalam kegiatan dimaksud. Undangan tersebut berasal dari unsur Pemerintah Desa, Majelis Jemaat sama Tua-tua Adat dan juga undangan yang lain yang merasa perlu untuk di undang misalnya PEMDA, PEMKEC dan masyarakat di desa-desa tetangga. Sebelum makan bersama di berikan kesempatan untuk memberikan kesempatan bagi mangke atau tamu yang dianggap penting untuk memberikan pesan dan kesan singkat serta didoakan oleh Majelis Jemaat yang partisipasi dalam acara dimaksud.
Oleh sebab itu, selain undangan di tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten, tahun 2020 di bulan Agustus kami mengundang bapak Jokowi untuk menghadiri kearifan lokal FESTIVAL BAKAR BATU dan Makan Bersama di Desa Arma Kecamatan Nirunmas Kabupaten Kepulauan Tanimbar.


KIDABELA
RATU NOR KIT MONUK DEDESAR


Komentar